Pemeran
- Natsuki Hanae as Tanjiro Kamado
- Akari Kitō as Nezuko Kamado
- Toshiyuki Morikawa as Kagaya Ubuyashiki
- Takahiro Sakurai as Giyu Tomioka
Dalam film Demon Slayer: Infinity Castle, tokoh yang paling menyentuh hati adalah Tanjiro Kamado, seorang pemuda pemberani yang menjadi anggota Demon Slayer Corps setelah keluarganya dibantai oleh iblis, meninggalkan adik perempuannya, Nezuko, berubah menjadi iblis yang masih mempertahankan sisi manusiawinya. Kehidupan Tanjiro penuh dengan perjuangan dan rasa sakit yang tak terbayangkan, tapi juga penuh tekad. Ia tumbuh dengan rasa kehilangan yang begitu besar setelah kematian orangtuanya dan saudara-saudaranya, membuatnya sering merasa sendirian di tengah misi berbahaya untuk membalas dendam dan menyembuhkan Nezuko. Hal ini tercermin dari sifatnya yang penuh empati dan peka, seperti saat ia menggunakan indera penciumannya yang tajam untuk melacak iblis, atau mengingat pelajaran dari ayahnya tentang “Transparent World” untuk bertarung. Bagi Tanjiro, hal-hal yang tampak mustahil justru menjadi sumber kekuatan, karena di sanalah ia merasa menemukan tujuan hidupnya sebagai pelindung.
Namun di balik keberaniannya, Tanjiro menyimpan kesedihan dan kemarahan yang mendalam. Ia sering merasa tidak diterima sepenuhnya oleh rekan-rekannya karena Nezuko yang iblis, dan bergulat dengan ketakutan gagal melindungi orang-orang tercinta. Salah satu adegan yang menggambarkan ini adalah saat ia jatuh ke dalam Infinity Castle, benteng tak berujung milik Muzan Kibutsuji, di mana ia harus menghadapi Upper Rank Three, Akaza, yang mengingatkannya pada Rengoku Kyojuro yang pernah dibunuh. Adegan sederhana itu menunjukkan betapa dalamnya rasa kesepian dan trauma yang ia rasakan, meski ia selalu berusaha tersenyum untuk menyemangati teman-temannya seperti Zenitsu dan Inosuke.
Pertemuan dengan Giyu Tomioka, Water Hashira yang menjadi mentornya sejak awal, menjadi titik balik bagi perjalanan emosinya. Saat pertama kali terjebak di Infinity Castle, Tanjiro tidak tahu bahwa pertarungan melawan Akaza akan menguji batas fisik dan mentalnya. Meski Akaza bersifat destruktif dan tak kenal ampun, Tanjiro bersikeras untuk bertarung dengan hati yang penuh belas kasih, bahkan setelah melihat masa lalu tragis Akaza yang membuatnya berubah menjadi iblis. Ia percaya bahwa setiap makhluk, betapapun rusaknya, layak mendapat penebusan. Inilah kekuatan utama Tanjiro: kemampuannya mencintai tanpa syarat dan menggunakan teknik Sun Breathing untuk melindungi Nezuko dan Corps.
Konflik emosional Tanjiro juga terlihat dalam hubungannya dengan Nezuko. Sebagai adik yang menjadi iblis tapi tetap setia, Nezuko sering menjadi beban emosional bagi Tanjiro, yang merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatannya. Hal ini membuat mereka sering terpisah dalam pertarungan di Infinity Castle, dan Tanjiro harus menghadapi ancaman seperti Doma atau Kokushibo yang mengancam Nezuko. Namun meski banyak salah paham dan pengorbanan, keduanya selalu kembali pada rasa cinta yang tulus. Dari interaksi ini, penonton bisa melihat sisi rapuh sekaligus kuat dalam diri Tanjiro ia masih pemuda yang penuh emosi, tapi juga punya hati besar untuk memahami keluarganya dan melindungi mereka dari kegelapan seperti serangan Upper Rank.
Puncak perjalanan emosinya terletak pada pertarungan akhir melawan Akaza, di mana Tanjiro memasuki Selfless State dan memenggal kepala Akaza, memicu ingatan masa lalu Akaza tentang keluarganya yang hilang. Akaza, menyadari kesalahannya, bunuh diri untuk menebus dosa, dan Tanjiro berdoa untuk jiwanya. Kalimat ikonik Tanjiro, “I will not belittle those who regret their actions and suffer over the things they did as demons. Because demons were once human,” menjadi wujud keyakinan bahwa ia, Nezuko, dan rekan-rekannya pantas melanjutkan perjuangan melawan Muzan, meski bentuknya tidak sempurna. Lewat momen ini, Tanjiro berhasil menjembatani perbedaan antara manusia dan iblis, menyembuhkan luka batin, dan menemukan makna penebusan yang sejati.
Secara keseluruhan, Tanjiro, yang dihidupkan dengan penuh emosi oleh pengisi suara Natsuki Hanae (dan Zach Aguilar dalam versi Inggris), adalah representasi nyata dari pemuda yang pernah merasa tersisih, berbeda, dan kesepian karena trauma kehilangan. Namun, justru dari rasa sakit itulah ia tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih dan berani percaya pada orang lain serta kekuatan persaudaraan. Melalui dirinya, film Demon Slayer: Infinity Castle tidak sekadar bercerita tentang pertarungan iblis yang epik, tapi juga tentang perjalanan batin seorang pemuda yang belajar menerima kehilangan, menantang kegelapan, dan menemukan arti keluarga serta keberanian yang sebenarnya.
