Pemeran
- Ringgo Agus Rahman as Dedi
- Boris Blokir as Tatang
- Tissa Biani Azzahra as Intan
Dalam film Panggil Aku Ayah (2025), tokoh yang paling menyentuh hati adalah Dedi Kosasih, seorang penagih utang kasar yang bekerja bersama sepupunya Tatang di Sukabumi, hidup dalam rutinitas keras mengejar debitur yang macet. Kehidupan Dedi penuh dengan tekanan ekonomi dan kekerasan verbal, tapi juga penuh luka batin yang tak terungkap. Ia tumbuh dengan rasa frustrasi yang mendalam setelah gagal membangun keluarga sendiri, membuatnya sering merasa sendirian di tengah pekerjaan yang membuatnya kehilangan empati. Hal ini tercermin dari sifatnya yang tegas dan dingin, seperti saat ia memaksa Rossa menyerahkan anaknya Intan sebagai jaminan utang, atau menggunakan bahasa Sunda kasar untuk mengintimidasi debitur. Bagi Dedi, hal-hal yang tampak sederhana seperti tagihan macet justru menjadi simbol kegagalan hidupnya, karena di sanalah ia merasa terperangkap dalam siklus kemiskinan dan penolakan.
Namun di balik ketegasannya, Dedi menyimpan kesedihan dan keraguan diri yang dalam. Ia sering merasa tidak diterima oleh masyarakat yang memandang rendah profesi penagih utang, dan bergulat dengan ketakutan gagal menjadi figur ayah seperti yang pernah ia impikan. Salah satu adegan yang menggambarkan ini adalah saat ia pertama kali membawa Intan ke rumah sederhananya, di mana anak kecil itu menangis kencang karena kangen ibunya, memicu momen kerentanan di mana Dedi hampir menyerah dan ingin mengembalikan Intan. Adegan sederhana itu menunjukkan betapa dalamnya rasa kesepian yang ia rasakan, meski usianya sudah dewasa, karena ia harus menghadapi tanggung jawab tak terduga yang mengguncang rutinitasnya.
Pertemuan dengan Intan, gadis kecil yang dijadikan jaminan oleh ibunya Rossa sebelum pergi sebagai TKI, menjadi titik balik bagi perjalanan emosinya. Saat pertama kali mengasuh Intan (diperankan oleh Myesha Lin sebagai versi kecil), Dedi tidak tahu bahwa anak itu akan mengubah hidupnya secara permanen. Meski Intan awalnya destruktif dan rewel, seperti saat ia merusak barang-barang di rumah Dedi atau menolak makan, Dedi bersikeras untuk merawatnya dengan bantuan Tatang. Ia percaya bahwa setiap anak, betapapun merepotkan, layak mendapat kasih sayang. Inilah kekuatan utama Dedi: kemampuannya mencintai tanpa syarat dan belajar menjadi ayah pengganti melalui momen-momen kecil seperti mengajak Intan bermain atau melindunginya dari ancaman luar.
Konflik emosional Dedi juga terlihat dalam hubungannya dengan Tatang. Sebagai sepupu sekaligus mitra kerja yang setia, Tatang sering kewalahan dengan keputusan Dedi yang impulsif, seperti saat mereka bertengkar karena biaya merawat Intan yang membebani pekerjaan mereka, dan hal ini membuat mereka sering bertengkar. Namun meski banyak salah paham, keduanya selalu kembali pada rasa persaudaraan yang tulus, terutama saat menghadapi kembalinya Rossa atau tantangan masa depan Intan dewasa. Dari interaksi ini, penonton bisa melihat sisi rapuh sekaligus kuat dalam diri Dedi, ia masih pria keras yang penuh emosi dari masa lalu gagalnya, tapi juga punya hati besar untuk memahami “keluarganya” yang baru dan melindungi Intan dari ketidakpastian hidup.
Puncak perjalanan emosinya terletak pada momen ketika Intan dewasa (diperankan oleh Tissa Biani Azzahra) kembali dan mengungkapkan rasa syukurnya, di mana Dedi harus menghadapi kenyataan bahwa ikatan mereka telah tumbuh menjadi keluarga sejati meski tanpa darah. Dengan bantuan Tatang yang mengorbankan waktu dan usahanya, Dedi berhasil menerima peran ayahnya yang tak terduga. Kalimat ikonik Intan, “Panggil aku ayah,” menjadi wujud keyakinan Dedi bahwa ia, Tatang, dan Intan pantas disebut keluarga, meski bentuknya tidak sempurna. Lewat momen ini, Dedi berhasil menjembatani jurang antara masa lalu kerasnya dan masa depan penuh kasih, menyembuhkan luka batin, dan menemukan makna pengorbanan yang sejati.
Secara keseluruhan, Dedi, yang dihidupkan dengan penuh emosi oleh aktor Ringgo Agus Rahman, adalah representasi nyata dari pria biasa yang pernah merasa tersisih, berbeda, dan kesepian karena profesi dan kegagalan pribadinya. Namun, justru dari rasa sakit itulah ia tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih dan berani percaya pada orang lain serta kekuatan ikatan tak sedarah. Melalui dirinya, film Panggil Aku Ayah tidak sekadar bercerita tentang penagih utang yang lucu, tapi juga tentang perjalanan batin seorang pria yang belajar menerima kehilangan, menantang stereotip, dan menemukan arti keluarga serta keayahayahaan yang sebenarnya.
