Pemeran
- Keke Palmer as Dreux
- Sza as Alyssa
- Joshua David Neal as Keshawn
Dalam film One of Them Days (2025), tokoh yang paling menyentuh hati adalah Dreux Jones, seorang pelayan di restoran Norms yang bertanggung jawab dan ambisius, tinggal bersama sahabat sekaligus roommate-nya, Alyssa, di apartemen kumuh di Baldwin Village, Los Angeles. Kehidupan Dreux penuh dengan rutinitas melelahkan sebagai pekerja shift malam, tapi juga penuh luka batin. Ia tumbuh dengan rasa frustrasi yang mendalam atas kesulitan finansial dan mimpi membuka franchise restoran sendiri, membuatnya sering merasa terbebani sebagai satu-satunya penyokong stabil di apartemen mereka. Hal ini tercermin dari sifatnya yang praktis dan cemas, seperti saat ia bersiap untuk wawancara penting di FisCal Capital Group sambil mengelola tagihan sehari-hari, atau menghadapi pelanggan mabuk dan pengangguran. Bagi Dreux, hal-hal yang tampak biasa seperti shift kerja justru menjadi simbol ketangguhannya, karena di sanalah ia merasa menemukan tujuan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.
Namun di balik ketangguhannya, Dreux menyimpan kesedihan dan keraguan diri yang dalam. Ia sering merasa tidak diterima sepenuhnya oleh lingkungan yang penuh gentrifikasi, di mana tetangga seperti Bethany yang clueless mewakili perubahan yang mengancam komunitasnya. Salah satu adegan yang menggambarkan ini adalah saat tuan tanah Uche mengetuk pintu pagi-pagi menuntut uang sewa $1.500, mengungkap bahwa pacar Alyssa, Keshawn, telah menghabiskan uang sewa untuk investasi gagal, memicu kepanikan Dreux yang hampir melewatkan wawancara kerjanya. Adegan sederhana itu menunjukkan betapa dalamnya rasa kesepian dan tekanan yang ia rasakan, meski ia berusaha tetap tenang untuk menjaga persahabatan mereka.
Pertemuan dengan Alyssa menjadi titik balik bagi perjalanan emosinya. Saat mereka menyadari uang sewa hilang dan hanya punya waktu hingga pukul 6 sore untuk membayar atau diusir, Dreux tidak tahu bahwa petualangan gila ini akan menguji ikatan mereka. Meski Alyssa impulsif dan sering membuat masalah dengan prioritas pada pacar buruknya, Dreux bersikeras untuk tetap mendukungnya, seperti saat mereka pergi ke bank darah ilegal, menghindari loan shark, atau berurusan dengan Berniece, selingkuhan Keshawn yang agresif. Ia percaya bahwa setiap sahabat, betapapun merepotkan, layak mendapat kesempatan kedua. Inilah kekuatan utama Dreux: kemampuannya mencintai tanpa syarat dan menggunakan kecerdasannya untuk menyatukan kekacauan menjadi rencana darurat.
Konflik emosional Dreux juga terlihat dalam hubungannya dengan Alyssa. Sebagai sahabat sekaligus roommate yang berbagi segalanya, Alyssa sering kewalahan dengan keputusan Dreux yang terlalu hati-hati, dan hal ini membuat mereka sering bertengkar seperti saat Alyssa menyalahkan Dreux atas kegagalan skema cepat kaya, atau saat tekanan eviksi membuat Dreux meledak karena merasa menjadi “penyelamat” satu-satunya. Namun meski banyak salah paham, keduanya selalu kembali pada rasa persaudaraan yang tulus, terutama dengan bantuan tetangga seperti Mama Ruth yang hangat atau Jameel si penata rambut. Dari interaksi ini, penonton bisa melihat sisi rapuh sekaligus kuat dalam diri Dreux ia masih wanita muda yang penuh emosi dan ambisi, tapi juga punya hati besar untuk memahami sahabatnya dan melindungi mereka dari ancaman seperti Bully Berniece atau Maniac yang misterius.
Puncak perjalanan emosinya terletak pada balapan akhir melawan waktu, di mana Dreux harus memilih antara wawancara kerjanya dan menyelamatkan apartemen, sambil menghadapi subplot gentrifikasi dan cinta potensial dengan Maniac. Dengan bantuan Alyssa yang akhirnya bertanggung jawab dan komunitas “The Jungle” yang unik, Dreux berhasil mengumpulkan uang melalui skema absurd tapi kreatif, seperti menjual barang curian atau menghadapi Katt Williams sebagai Lucky si peramal lingkungan. Kalimat ikoniknya, “We got this, but only if we stick together,” menjadi wujud keyakinan Dreux bahwa ia, Alyssa, dan tetangga mereka pantas bertahan, meski bentuknya tidak sempurna. Lewat momen ini, Dreux berhasil menjembatani perbedaan antara mimpi pribadi dan solidaritas, menyembuhkan luka batin, dan menemukan makna persahabatan yang sejati di tengah kekacauan hari buruk.
Secara keseluruhan, Dreux, yang dihidupkan dengan penuh emosi oleh aktris Keke Palmer, adalah representasi nyata dari wanita muda yang pernah merasa tersisih, berbeda, dan kesepian karena tekanan ekonomi dan tanggung jawab. Namun, justru dari rasa sakit itulah ia tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih dan berani percaya pada orang lain serta kekuatan komunitas. Melalui dirinya, film One of Them Days tidak sekadar bercerita tentang hari buruk yang lucu, tapi juga tentang perjalanan batin seorang sahabat yang belajar menerima kegagalan, menantang sistem, dan menemukan arti keluarga serta ketahanan yang sebenarnya.
