Kisah One of Them Days diawali dengan kehidupan Dreux (Keke Palmer) dan Alyssa (SZA), dua sahabat sekamar yang tinggal di kompleks apartemen The Jungle di Los Angeles, sebuah tempat yang penuh warna dengan tetangga eksentrik dan hiruk-pikuk kota besar. Dreux adalah seorang pelayan restoran yang pekerja keras, ambisius, dan sedikit canggung, dia selalu jadi karyawan terbaik bulan ini, tapi tetap berjuang dengan kecemasan sehari-hari sambil memimpikan promosi jadi manajer franchise. Alyssa, di sisi lain, adalah seniman bebas roh yang suka pesta, membaca horoskop, dan menyelipkan momen romantis dengan pacarnya, Keshawn.
Dunia mereka adalah campuran antara kegembiraan persahabatan dan tekanan finansial yang konstan, di mana tagihan sewa selalu mengintai seperti bayangan tak terelakkan. Mereka bukan orang kaya, tapi ikatan mereka kuat, dibangun dari tawa bersama dan dukungan mutual di tengah kekacauan hidup urban. Perjalanan itu berubah drastis ketika Alyssa, dalam kepercayaan buta, menyerahkan uang sewa mereka kepada Keshawn, yang malah menghabiskannya untuk bisnis T-shirt absurd bernama “Cucci.” Tindakan ini seperti bom waktu yang meledak saat pemilik apartemen datang menagih, mengancam pengusiran dalam 24 jam. Dreux dan Alyssa tiba-tiba terjebak dalam hari yang benar-benar “one of them days” yang dimana hari buruk yang penuh kekacauan, di mana segala sesuatu yang salah bisa salah.
Mereka bergegas mencari solusi ekstrem, dari meminjam uang dengan bunga tinggi dari rentenir, menjual darah di bank darah yang teduh, hingga menghindari ancaman dari tetangga galak seperti Bully Berniece, pacar sampingan Keshawn yang penuh dendam. Di tengah itu, Dreux harus tetap fokus pada wawancara kerjanya, sementara Alyssa berusaha menebus kesalahannya. Tindakan mereka tampak nekat dan lucu, seolah hari itu adalah rollercoaster yang tak berhenti, tapi justru dari kekacauan inilah kekuatan persahabatan mereka diuji. Awalnya, hubungan Dreux dan Alyssa terasa seperti duo komedi klasik, Dreux yang pragmatis dan Alyssa yang impulsif, sering bertengkar tapi selalu saling melengkapi.
Saat mereka berlari dari satu masalah ke masalah lain, menghadapi pembunuh lokal yang misterius atau tetangga seperti Jameel si penata rambut tak bisa diandalkan, interaksi mereka penuh tawa fisik dan dialog tajam. Dreux menemukan keberanian dalam kekacauan, belajar bahwa ambisinya tak harus sempurna, sementara Alyssa menyadari konsekuensi dari kecerobohannya. Seperti Leslie dan Jess di Bridge to Terabithia yang membangun dunia imajinasi dari realitas keras, Dreux dan Alyssa menciptakan “dunia” mereka sendiri dari hari buruk ini, dunia di mana tawa menjadi senjata, dan persahabatan adalah jangkar.
Setiap momen kecil, seperti berdebat soal horoskop atau saling wingwoman di tengah krisis, perlahan memperkuat ikatan mereka, dari sekadar teman sekamar menjadi saudara sejati yang saling melindungi. Film ini membangun simbol kehangatan persahabatan di tengah perjuangan finansial modern. Dreux belajar bahwa sukses bukan hanya soal promosi kerja, melainkan tentang hadir untuk orang terdekat, sementara Alyssa menemukan bahwa kebebasan harus diimbangi tanggung jawab. Saat Mama Ruth, figur tante pengasuh yang hangat, muncul sebagai pendukung, atau Bethany si penyewa baru yang melambangkan gentrifikasi, cerita menyentuh isu lebih dalam mengenai bagaimana komunitas urban seperti The Jungle penuh karakter quirky seperti Maniac, minat romantis Dreux menjadi tempat di mana orang biasa bertahan melawan sistem yang tak adil.
Ikatan Dreux dan Alyssa menjadi cermin bagi penonton, mengingatkan bahwa sahabat bisa menjadi keluarga pilihan, terutama saat dunia terasa tak ramah. Konflik semakin menajam ketika Keshawn kembali, memicu ledakan emosional antara Dreux dan Alyssa. Kehadirannya memunculkan dilema, apakah mereka bisa memaafkan kesalahan satu sama lain, atau apakah hari buruk ini akan merusak segalanya? Pertanyaan ini membuka luka batin, memaksa karakter menghadapi kenyataan bahwa persahabatan bukan hitam-putih, bukan sekadar tawa bersama, melainkan ikatan yang teruji lewat pengorbanan dan pengampunan. Cameo dari figur seperti Katt Williams dan Lil Rel Howery menambah lapisan humor, meski kadang terasa menyimpang, tapi justru menekankan kekacauan hidup yang tak terduga.
Klimaks emosional hadir ketika Dreux dan Alyssa menghadapi ancaman pengusiran secara langsung, dengan Dreux mempertaruhkan wawancaranya dan Alyssa berhadapan dengan konsekuensi pilihannya. Bagi Dreux, ini menjadi ujian besar di mana dia berani mengakui bahwa persahabatan lebih berharga daripada ambisi pribadi, sementara Alyssa belajar bertanggung jawab. Adegan itu begitu menggetarkan karena menunjukkan transformasi manusia yang lahir dari kekacauan, dari dua perempuan yang terjebak masalah menjadi duo yang tak terpisahkan, dengan humor fisik dan timing komedi yang brilian dari Palmer dan SZA.
Film ini menutup kisahnya dengan nuansa haru dan reflektif, di mana Dreux dan Alyssa berhasil menyelamatkan hari dan apartemen mereka tapi dengan pelajaran yang mendalam. Tidak ada resolusi sempurna, hari buruk bisa datang lagi, tapi ikatan mereka kini lebih kuat. One of Them Days mengajak penonton merenung, bahwa persahabatan bukan sekadar teman biasa, melainkan orang yang memilih bertahan di sisi kita meski dunia berantakan, mencintai lewat tawa dan dukungan tanpa syarat.
Secara kontemplatif, film ini juga menyentuh isu universal terkait bagaimana definisi persahabatan bisa melampaui batas tradisi, terutama bagi perempuan Hitam dalam komedi buddy. Dalam dunia yang sering mengukur segalanya dengan uang dan status, One of Them Days menunjukkan bahwa kebahagiaan bisa lahir dari pilihan untuk saling mendukung, dari keberanian menghadapi kekacauan bersama, dan dari kebaikan kecil seperti tawa di hari buruk. Setting Los Angeles yang neon dan penuh energi, lengkap dengan nuansa komunitas urban, menjadi latar yang menguatkan kesan relatable dan kegembiraan, meski dengan cerita yang sederhana.
